Tuesday, November 22, 2011

que ironía

Serupa air terjun yang tak pernah henti menerjunkan pesan kepada tanah melalui partikel-partikel bening yang sesungguhnya adalah bagian dari dirinya, aku akhirnya sampai di titik ini. Titik di mana aku akhirnya harus terjun kembali untuk menyampaikan pesan darimu yang tanpa sadar sebenarnya ditujukan untuk dirimu sendiri, juga untukku.

Aku menutup kelima indraku dan bersikeras mengatakan pada diriku sendiri bahwa semua ini tidak pernah terjadi sebelumnya, bahwa pesan-pesan tersebut ditujukan hanya untukmu, dan aku tidak memiliki peran apa-apa di dalamnya kecuali hanya sebagai media pengantar, atau pemantul, seperti cermin, yang kacanya penuh dengan kata-kata yang tertulis terbalik.

Maka aku membiarkan diriku membeku di udara, membiarkan semuanya mengalir, membiarkan semuanya terjun bebas, membiarkan semuanya berubah kecuali diriku. Tanpa menyadari bahwa sebenarnya aku pun akan berubah dengan atau tanpa kehadiran dirimu, karena pada akhirnya sang kala akan mampu mengikis karang yang terbuat dari kumpulan apologi yang kubuat, sekeras apa pun itu. Maaf, jika suatu hari aku harus berjalan tanpamu, tanpa siapa pun.

"If irony were made of strawberries, we'd all be drinking a lot of smoothies right now."

Monday, November 14, 2011

footlose and fancy free

Dalam "Into The Wild", Alexander Superstramp alias Christopher McCandless bilang bahwa kebahagiaan itu tidak datang dari hubungan antar manusia, makanya dia memutuskan untuk meninggalkan kehidupan mapannya, meninggalkan keluarga dan semua uangnya untuk kemudian pergi sendirian ke utara, ke Alaska. Untuk apa? Untuk menemukan dirinya, untuk menemukan kebahagiaan di tengah kesendiriannya.

Sepertinya ide untuk menarik diri dari pola hidup yang telah terbentuk selama bertahun-tahun, mengendap dalam bawah sadar, untuk kemudian diyakini sebagai sesuatu yang seharusnya pernah muncul dalam benak siapa pun. Begitu pula saya. Sehabis menonton film tersebut beberapa tahun yang lalu, saya selalu terobsesi untuk melakukan perjalanan sendirian, ke tempat yang jauh, yang benar-benar di luar jangkauan rasa aman dan nyaman saya. Tetapi berbagai kesibukan saat itu tidak pernah mengizinkan saya untuk melakukannya, sehingga obsesi itu akhirnya takluk juga oleh kenyataan bahwa segala sesuatu --bahkan yang terliar sekalipun-- itu menunggu saat yang tepat untuk terjadi.

Saat ini ketika saya telah memiliki banyak waktu untuk melakukan lebih banyak hal yang dulu tidak bisa saya lakukan, seperti melakukan perjalanan sendirian, saya malah tidak melakukannya. Karena ketika hidupmu tidak lagi menawarkan tantangan, ketika tidak ada lagi beban-beban yang membuatmu sulit untuk sekedar menghela nafas, akan sulit untuk menemukan alasan yang tepat untuk dirimu sendiri kenapa kamu beranjak dari itu semua. Justru saya malah merindukan itu semua, saat-saat dimana sulit bernafas karena pekerjaan yang sepertinya tidak pernah habis justru menjadi momen yang paling melegakan.

Apakah hubungan antar manusia benar-benar tidak menawarkan kebahagiaan yang dapat direguk di dalamnya? Saya tidak tahu. Yang jelas memang kadang relasi dengan orang lain akan membuat gesekan-gesekan dalam pikiran yang membuat kita tidak nyaman. Karena bukankah ketika berhubungan dengan orang lain sebenarnya tanpa sadar kita telah sepakat untuk berbagi dunia dengannya? Kemudian ketika suatu hari terjadi sesuatu dalam hubungan itu yang bertabrakan dengan konsepsi-konsepsi kita tentang hidup, tentang dunia personal yang kita masing-masing miliki, itu akan menimbulkan friksi dalam hati kita?

Lalu apakah sebaiknya setiap orang hidup dalam dunianya sendiri dan berkubang dalam kepercayaan-kepercayaan serta egonya masing-masing sehingga dunia personalnya yang ideal tidak perlu terkontaminasi oleh masalah-masalah yang datang dari galaksi kehidupan orang lain? Entahlah, yang jelas ada konsekuensi untuk setiap hal yang terjadi.


Tapi saya tidak suka ending dari film itu (yang sebenarnya adalah ending dari kehidupan nyata seseorang). Ketika akhirnya sebelum mati McCandless bilang bahwa kebahagiaan itu hanya ada jika dibagi, bahwa manusia itu tidak akan bahagia ketika tidak ada orang lain di sekelilingnya. Bukan ide tentang kebahagiaan itu yang mengganggu, tetapi bahwa dia mengatakan hal yang sama sekali kontradiktif dengan kepercayaannya selama ini ketika dia tengah menghabiskan masa-masa terakhir hidupnya di tempat yang sangat dia impikan dan membutuhkan perjuangan yang keras untuk bisa sampai di sana adalah kenyataan yang benar-benar menyebalkan untuk dilihat.

Semacam seseorang yang berhasil menjual gelang Power Balance kepada orang banyak untuk kemudian berkata bahwa sebenarnya gelang-gelang itu tidak memiliki efek apa pun. Yah, begitulah.

Friday, November 11, 2011

ambrosia

Halo. Saya bikin buku loh. Niat awalnya bikin karena mau diikutin lomba, tapi berhubung ga menang, akhirnya saya perbanyak sendiri. Judulnya Ambrosia, isinya biasa aja sih, cuma kumpulan cerita-cerita fiksi sama puisi atau apa pun deh itu namanya.

Pengennya sih saya bagi-bagiin gratis, tapi berhubung saya buat makan aja masih nunggu kiriman (yang sering telat), jadi kalo mau gantiin ongkos cetak aja 30 ribu. Iya emang mahal, kalo saya sih daripada beli buku dari penulis yang namanya aja saya ga pernah denger, mending ke Togamas dan beli buku harga segitu yang kualitasnya jauh lebih menjanjikan.

Tapi kalo tetep pengen mah ya udah mau gimana lagi, hubungin aja saya di lulabimenujumati@yahoo.co.uk atau 08562554565. Terima kasih.

Tuesday, November 8, 2011

is it wicked not to care?

"God help the girl, she needs all the help she can get."